Implikasi Prekariat Ojol di Indonesia: Kepastian Masa Depan dan Keamanan Para Mitra

Melihat tantangan pekerjaan ojol di Indonesia yang minim akan hak dan job security.
Muhamad Rafi
March 17, 2026

Perkembangan Ojol yang pesat

Pada awal berkembangnya, ojol dipromosikan sebagai kesempatan baru di Indonesia di tengah perekonomian yang tidak pasti. Berbagai startup mulai memanfaatkan kondisi sosial di Indonesia yang memiliki fenomena opang (ojek pangkalan) yang menggunakan kendaraan roda dua mereka sebagai “taksi” murah di tengah hiruk pikuk kegiatan metropolitan terdigitalisasi dan “terformalisasi” menjadi mitra perusahaan sebagai mesin revenue mereka.

Perusahaan seperti Uber, Grab, dan pesaing lokal seperti Gojek menjadi pesaing awal yang bertumbuh di Indonesia. Pada awal berdiri, perusahaan-perusahaan tersebut nampak menjadi “gerbang” untuk ketidakpastian ekonomi untuk banyak masyarakat lower income. Mimpi akan pendapatan yang lebih baik nampak tidak jauh untuk mata memandang. Banyak cerita ojol pada awal bergeraknya dapat mendapatkan gaji lebih dari 7 juta, bahkan ada yang rela meninggalkan kursi kantor untuk turun ke lapangan sebagai ojol (Espos Bisnis, 2023).

Mimpi itu menjadi daya tarik banyak orang, meskipun jumlah pastinya sulit dilacak, estimasi dari berbagai lembaga riset menempatkan jumlah pengemudi ojol di Indonesia lebih dari 4 juta orang (Infid, 2025). Ketidaktepatan dan kesulitan jumlah ojol ini didorong dikarenakan laju cepat setiap tahunnya masyarakat yang mengambil profesi menjadi ojol.

Pendapatan yang Turun

Pendapatan ojol, seperti yang disebutkan sebelumnya, memiliki daya tarik untuk masyarakat yang membutuhkan. Cerita-cerita sukses menaikkan pendapatan bahkan cerita keluar negeri melalui pekerjaan ojol menjadi magnet. Itu benar pada awal merintisnya, akan tetapi pada masa sekarang kita lebih banyak mendengar cerita mengenai pemenuhan hak serta pendapatan yang terus turun. Dalam satu sisi, hal ini dibenarkan dikarenakan semakin tingginya persaingan antara ojol yang terus meningkat, inflasi nasional yang terjadi, dan kebutuhan hidup yang terus melambung. Akan tetapi, dalam implikasi lain adanya hal sistematis yang membuat pendapatan mereka menurun. 

Pada contoh sistematis tersebut adalah pengurangannya pemberian insentif kepada para mitra dikarenakan strategi money-burning sudah selesai pada periode awal pendirian perusahaan. Hal ini mendorong perusahaan untuk mendapatkan revenue lain - yaitu melalui restrukturisasi pendapatan mereka melalui pemotongan insentif juga penarikkan persenan dari pendapatan dari mitra yang lebih besar.

Sumber: Novianto, 2022

Data lain menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan pengemudi ojek online (ojol), bukan hanya untuk pengguna motor saja, tapi juga mobil, turun signifikan selepas pandemi covid-19. Sebelum pandemi (periode 2018-2019) pendapatan harian mencapai sekitar Rp. 309,000/per hari, namun turun menjadi Rp. 175,000/per hari pada 2022-2023 (CNN Indonesia, 2025). Banyak data lain yang menunjukkan pendapatan ojol dari tahun ke tahun, dan semuanya, walaupun menunjukkan variasi, juga menunjukkan trend penurunan.

Keamanan Pekerjaan dan Masa Depan

Keamanan pekerjaan ojol adalah hal yang kerap disorot. Banyak ojol menciptakan komunitas, seperti berdasarkan satu pangkalan atau daerah sebagai basis komunitas mereka. By design, mitra diciptakan bukan sebagai pekerjaan utama dikarenakan statusnya sebagai mitra. Pendefinisian mitra disebutkan Dalam Pasal 1  angka 13 UU No. 20 Tahun 2008 disebutkan: 

Kemitraan adalah kerja sama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan Usaha Besar.”

Pendefinisian secara hukum memberikan ruang pendefinisian lebih luas serta multitafsir limitasi “kerjasama” yang diatur tersebut. Akan tetapi, dengan adanya pendefinisian tersebut, maka bagi perusahaan juga dapat memberikan definisi yang luas juga dalam pemberian keamanan dan kepastian kepada mitra mereka. Walaupun di brand sebagai “mitra”, yang memiliki implikasi kebebasan kuasa atas pekerjaan dari pribadi mitra, ada berbagai implikasi yang mengatakan berbeda: kontrol dan “kewajiban” tetap ada untuk mereka. 

Pengawasan yang dilakukan oleh perusahaan dari para mitra dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian seragam oleh pelanggan, serta perubahan tarif dan kompensasi yang sering dilakukan secara sepihak, telah menunjukkan bahwa para pengemudi tetap dalam “genggaman” kendali tertentu. Kontrol ini bersifat top-down sehingga para mitra sedikit hingga tidak memiliki kendali atas kebijakan yang dapat berdampak ke keamanan serta pendapatan para ojol.

Kerentanan keamanan ini nampak dengan adanya fluktuasi pendapatan yang bukan lagi sekadar variasi normal, melainkan konsekuensi desain disengaja yang sengaja dibuat tidak transparan untuk memaksimalkan fleksibilitas pasar (Irawan, et al., 2025). Banyak kasus ojol meminta insentif yang pasti dan tidak fluktuatif, THR seperti pekerjaan “pasti” dan tidak memiliki akses terhadap jaminan kesehatan dasar seperti BPJS, kepastian uang pensiun, atau kompensasi kecelakaan kerja. Relasi antara “kewajiban” dan “ketidakpastian” ini membuat mitra berada di posisi kebingungan dan kerentanan yang kuat.

Sumber: The Conversation, 2025

Ojol turut menyumbang pekerja informal di Indonesia. Pekerja informal adalah mereka yang beroperasi tanpa kontrak kerja resmi, jaminan sosial, dan seringkali tidak terdaftar dalam sistem administrasi pemerintah atau pajak, akan tetapi dalam pembahasan ini, praktik pekerjaan informal yang dipegang oleh ojol memiliki keunikan tersendiri, yaitu kerentanan dikarenakan kebingungan di tengah informalitas serta ‘kewajiban’. 

Munculnya Kelas Rentan Baru: Masa Depan yang Membingungkan

Kerentanan yang menghantui para mitra menciptakan adanya kelas sosial yang penuh ketidakpastian akan tetapi memiliki dorongan kewajiban seakan adanya posisi yang memberikan kepastian dan keamanan. Para pekerja ini disebut sebagai kelas prekariat, dimana mereka harus menjalankan pekerjaan dengan jam kerja panjang, gaji yang tidak pasti dan rendah, dan absensinya perlindungan sosial. Kelas ini adalah jargon baru yang Istilah ini menggabungkan kata "precarious" (rentan) dan "proletariat" (pekerja). Istilah tersebut pertama kali disebutkan oleh Guy Standing dalam buku The Precariat: The New Dangerous Class di 2011. Para mitra juga duduk dalam jebakkan ilusi bahwa mereka memiliki kebebasan dan otonomi atas pekerjaan mereka: mereka bebas menentukan jam kerja, bisa menolak order, dan tidak terikat oleh hierarki perusahaan formal dan birokrasi yang ketat. Akan tetapi “kebebasan” tersebut malahan mendorong mereka terjebak dalam kewajiban yang memotong pendapatan mereka serta terus berkurangnya insentif yang menjadi giuran awal.

Implikasi yang diberikan dalam pembahasan ini menjadi refleksi bagaimana kondisi sosio-ekonomi di Indonesia bergerak. Indonesia bergerak di bidang mikro yang mana berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia lebih dari 90%. Ojol dan mitra perusahaan perusahaan tersebut yang seharusnya menjadi sampingan bertransformasi menjadi pekerjaan “tetap”. Walaupun adanya pergeseran definisi mitra menjadi pekerjaan, pada hakikat tertulis antara kemitraan perusahaan dan mitra tidak berubah. Meningkatnya ojol dari tahun ke tahun tetapi bersama-sama pendapatan yang terus terpuruk tanpa adanya jaminan sosial dapat menjadi “bom waktu” serta refleksi kondisi perekonomian lebih luas di indonesia.

Referensi:

Standing, Guy (2011) The Precariat: The Dangerous New Class

Irawan, A. R., Amri, F. H., Hermawan, F., & Alfaridzi, L. H. (2025). Formasi Identitas Pemuda Ojek Online dalam Risiko Ekonomi Politik Platform Digital. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 9(7), 111-120.

Novianto, Arif. "Race to the bottom: Competition between Indonesian food delivery platform companies for cheap gig workers." Developing Economics (2022). 

CNN Indonesia. (2025, September 1). Riset: Pendapatan ojol anjlok jadi Rp175 ribu usai

pandemi. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20250901165417-92-1268921/riset-pendapatan-ojol-anjlok-jadi-rp175-ribu-usai-pandemi

Espos Bisnis (2023) Driver Ojol dulu Resign dari Kantoran Demi Rp 7 Juta Bulan kini Sepi Orderan  https://bisnis.espos.id/driver-ojol-dulu-resign-dari-kantoran-demi-rp7-juta-bulan-kini-sepi-orderan-1558048-1558048

The Conversation (2025) Sadar Pekerjaanyan Tidak langgeng Teman-temanOjol Berhasrat Mendapat Pelatihan Upskilling https://theconversation.com/sadar-pekerjaannya-tidak-langgeng-teman-teman-ojol-berhasrat-mendapat-pelatihan-upskilling-268535

Related Tags
Follow us